Berapa Banyak Telur yang Aman Dikonsumsi Setiap Minggu?

Telur dadar orak-arik (via Serious Eats).

Bersepeda tentu membutuhkan asupan makanan agar dapat terus menggerakkan tubuh dan kaki tetap mengayuh pedal. Selain karbohidrat sebagai sumber tenaga yang utama, juga dibutuhkan lemak dan protein, yang fungsinya saling berkaitan. Kedua nutrisi tersebut, lemak dan protein, terdapat dalam telur. Lalu, bagaimana pola konsumsi telur yang baik? Berapa banyak telur yang dikonsumsi, agar pas bagi kebutuhan tubuh?

—– —– —– —– —–

Telur dapat dimasak dengan berbagai cara; dibuat omelet, dicampur dalam sayur sop atau mi goreng, atau dimasak begitu saja, didadar atau direbus. Kandungan gizi yang beraneka ragam di dalam telur membuatnya seperti semangkuk sereal yang siap mengganjal perut di hari yang sibuk. Namun, dengan begitu mudahnya telur ‘masuk’ ke dalam berbagai menu makanan, sebenarnya berapa jumlah yang paling aman untuk dikonsumsi?

Menurut Keri Gans, R.D., pengarang buku The Small Change Diet, dua butir telur untuk sehari-hari adalah jumlah yang aman dikonsumsi untuk tiap orang.

Namun, ada hal yang perlu diperhatikan. “Seseorang perlu mengetahui diet total dalam seharinya, dan mengetahui dari mana saja dia mendapatkan asupan lemak jenuh,” ujar Keri Gans. “Memang aman untuk mengkonsumsi dua butir telur setiap hari, namun jika telur yang dimakan didadar dengan campuran keju atau susu, maka tentu saja kalori (dan lemak jenuh) dalam sehari itu akan melonjak drastis.”

Sajian yang paling sederhana adalah yang paling minim risiko. Telur ceplok atau dadar, yang dicampur dengan sedikit bawang daun, seledri dan irisan cabe rawit, akan menghasilkan rasa yang gurih dengan sedikit ‘bonus’ pedas. Namun tentu saja jangan sampai terlalu matang atau gosong, agar kandungan proteinnya tidak rusak.

Menurut Keri Gans, kuning telur memiliki kandungan lemak yang tinggi sekaligus vitamin yang banyak. “Ada beberapa nutrisi yang terdapat dalam kuning telur, yang tidak ada di putih telur. Vitamin terlaurt lemak terdapat di dalam kuning telur. Jadi, jika memilih tak memakan kuning telur, tentu akan mengurangi asupan lemak. Namun kita akan kehilangan potensi vitamin yang terdapat di dalamnya. Bukan pilihan yang tepat jika kita menginginkan makanan yang cepat saji dan sehat.”

Kesimpulannya, menurut Keri Gans, bahwa jumlah konsumsi telur yang paling pas tergantung pada pola makan secara keseluruhan. Sebutir telur yang lumayan besar memiliki 80 kkal, lima gram lemak dan enam gram protein. Telur bisa jadi pilihan paling tepat sebagai menu sarapan yang cepat saji dan bergizi.

(diolah dari www.womenshealthmag.com)